Terlalu Lama Scroll? Waspadai Brain Rot yang Bisa Mengganggu Keselamatan Kerja

 

Terlalu Lama Scroll? Waspadai Brain Rot yang Bisa Mengganggu Keselamatan Kerja

Tanggal: 9 Agustus 2026Oleh: Tim Riset dan Data FMK3NWaktu: 7 menit baca









Tim Penulis
Divisi Riset dan Data — FMK3N Tahun 2026/2027
Rey Hans Josua Carol PurbaUniversitas Negeri Jakarta
Khayrunnisa Cahya IslamadinaUniversitas Sebelas Maret
Cinta Aurellia FavianInstitut Teknologi Sepuluh Nopember
Nariima Nur HidayatiPoliteknik Perkapalan Negeri Surabaya





Abstrak 


Fenomena brain rot dan doomscrolling kini perlahan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, seiring semakin banyaknya waktu yang dihabiskan masyarakat di media sosial. Kebiasaan ini ternyata tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga mulai menjadi ancaman bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), karena dapat memicu kelelahan mental, menurunkan kewaspadaan, hingga meningkatkan risiko human error di tempat kerja. Dengan mengacu pada regulasi nasional serta standar internasional seperti ISO 45001, artikel ini mencoba membahas bagaimana penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mempengaruhi konsentrasi pekerja, khususnya di lingkungan kerja berisiko tinggi, sekaligus menawarkan langkah pengendalian yang dapat dilakukan oleh pekerja, praktisi K3, maupun pihak manajemen. Melalui pembahasan ini, dapat dipahami bahwa pencegahan kecelakaan kerja tidak cukup hanya mengandalkan Alat Pelindung Diri (APD), tetapi juga perlu diimbangi dengan menjaga kesehatan mental dan kemampuan fokus pekerja.



Pendahuluan


    Ponsel dan media sosial memang telah mengubah cara kita berinteraksi secara mendasar. Kemudahan mengakses informasi ini ternyata membawa efek samping bagi kondisi psikologis yang patut diwaspadai. Salah satu bentuk terburuknya adalah doomscrolling atau kebiasaan menggulir layar tanpa henti untuk mencari konten yang memicu emosi tinggi atau bernuansa negatif. Rantai kebiasaan ini akhirnya melahirkan kondisi yang secara populer disebut brain rot, yakni kelelahan mental yang ekstrem serta terkikisnya rentang fokus akibat paparan stimulasi yang berlebihan.

    Risikonya menjadi sangat fatal ketika kebiasaan ini terbawa ke lingkungan kerja. Di lapangan, 
fokus bukan hanya lupa membalas pesan, melainkan dampaknya bisa lebih buruk hingga mempertaruhkan keselamatan dan nyawa pekerja. Sebagai contoh, seorang operator alt berat yang tiba-tiba kehilangan konsentrasi karena notifikasi ponsel, atau teknisi yang pikirannya sudah lelah setelah terus-menerus menonton video pendek saat istirahat, menunjukkan bagaimana kebiasaan ini bisa berubah menjadi bahaya nyata di tempat kerja. Kondisi ini membuat peluang terjadinya kecelakaan kerja menjadi lebih besar. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini bertujuan membahas bagaimana brain rot dan doomscrolling dapat menjadi risiko bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta menyusun langkah-langkah pencegahan yang bisa diterapkan di tempat kerja

Indikator20252026
Pengguna akses internet nasional80,7%81,72%
Pengguna mengakses internet ≥ 4 jam/hari56,7%62,2%
Konten video pendek (TikTok, Reels, YouTube Short)29,5%30,2%
Interaksi dan scrolling media sosial26,6%28,7%
Gabungan video pendek + scrolling (potensi doomscrolling)56,1%58,9%

Tabel 1. Statistik Penggunaan Internet Indonesia, 2025 vs 2026

    Peningkatan ini diikuti dengan perubahan kebiasaan masyarakat, yaitu menghabiskan waktu lebih lama untuk melihat konten yang berulang tanpa memerlukan banyak pemikiran. Hampir 59% tontonan hiburan masyarakat pada tahun 2026 didominasi oleh video pendek dan kebiasaan scrolling layar media sosial. Kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kebiasaan buruk menatap layar ponsel tanpa henti. Kebiasaan inilah yang menjadi penyebab utama kelelahan mental atau menurunnya daya pikir (sering diistilahkan sebagai brain rot). Kondisi ini membuktikan bahwa masalah tersebut bukan lagi sekadar gaya hidup sebagian orang, melainkan sudah menjadi kebiasaan mayoritas pengguna internet di Indonesia yang berstatus sebagai pekerja aktif



Tinjauan dan Dasar Regulasi 


Meski aturan hukum yang ada jarang menggunakan istilah "gangguan ponsel/digital" secara langsung, pada dasarnya hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sudah mengatur kewajiban mencegah bahaya akibat kelelahan mental. Berikut beberapa acuannya:


1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Aturan ini mewajibkan perusahaan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dan melindungi pekerjanya. Ketentuan ini bisa dipahami sebagai kewajiban perusahaan untuk ikut mencegah bahaya yang berasal dari gangguan pikiran atau hilangnya fokus pekerja.

2. Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Aturan ini menegaskan bahwa kesehatan pekerja harus dijaga secara menyeluruh. Jadi, dengan demikian, perlindungan yang dimaksud tidak hanya mencakup kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa dan mental pekerja.

3. Permenaker No. 5 Tahun 2018

Aturan dari Kementerian Ketenagakerjaan ini menekankan pentingnya ergonomi, termasuk mengatur agar beban pikiran pekerja tidak berlebihan.

4. ISO 45001:2018

Standar keselamatan kerja tingkat dunia ini mewajibkan perusahaan untuk memperhitungkan faktor manusia seperti beban pikiran dan stres pada saat memetakan risiko bahaya di tempat kerja.

Berdasarkan aturan-aturan di atas, perusahaan memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk turun tangan. Berdasarkan aturan-aturan tersebut, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk ikut mengendalikan risiko yang muncul dari penggunaan ponsel pekerja, bukan lagi menganggapnya sebagai urusan pribadi semata. Perusahaan harus mulai membuat aturan yang tegas, misalnya menetapkan Kawasan Bebas Ponsel (No Phone Zone) di area-area kerja yang rawan kecelakaan.




Pembahasan 

A. Membedah Konsep Brain Rot dalam Ergonomi Kognitif

    Istilah brain rot menggambarkan kondisi ketika fungsi otak menurun akibat terlalu sering menonton konten digital yang serba cepat namun kurang berbobot. Akibatnya, seseorang jadi makin sulit fokus dalam waktu lama dan kemampuan berpikir kritisnya menurun (Al-Hakim dkk., 2025). Kondisi ini makin parah akibat kebiasaan doomscrolling karena rasa cemas yang membuat orang terus mengusap layar ponsel untuk mencari kabar terbaru hingga menguras energi pikiran (Türk-Kurtça & Kocatürk, 2025). Dari sudut pandang kesehatan mental kerja, terlalu banyak informasi yang masuk membuat kapasitas daya ingat menjadi penuh. Efeknya, otak jadi lambat memproses hal-hal penting dan pekerja lebih mudah salah mengambil keputusan.

    Dari sudut pandang ergonomi kognitif, otak memiliki kapasitas yang terbatas dalam menerima dan mengolah informasi. Ketika seseorang terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain dalam waktu singkat, sebagian perhatian akan tetap tertinggal pada aktivitas sebelumnya (attention residue). Akibatnya, fokus terhadap pekerjaan utama menjadi berkurang dan proses pengambilan keputusan menjadi kurang optimal (Leroy, 2009). Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena banyak pekerjaan berisiko tinggi membutuhkan konsentrasi penuh agar setiap tindakan dapat dilakukan secara aman.

B. Mekanisme Distraksi Menjadi Ancaman K3

    Lingkungan kerja berisiko tinggi seperti proyek konstruksi, pertambangan, atau rumah sakit membutuhkan tingkat fokus yang tinggi. Kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti dapat mengganggu konsentrasi pekerja dan memicu kelelahan mental. Akibatnya, pekerja menjadi kurang peka terhadap kondisi di sekitarnya. Meskipun mata telah melihat adanya potensi bahaya, otak memerlukan waktu lebih lama untuk memproses informasi sehingga respons terhadap bahaya menjadi lebih lambat (Aribowo & Bagaskara, 2025). Kondisi ini membuat pekerja lebih berisiko melewatkan tanda bahaya, salah menilai situasi di lingkungan kerja, atau terlambat merespons keadaan darurat.

Swiss Cheese Model


    Kondisi tersebut tidak selalu langsung menyebabkan kecelakaan kerja. Menurut Swiss Cheese Model, kecelakaan kerja umumnya terjadi karena beberapa kelemahan yang muncul secara bersamaan, bukan hanya akibat satu kesalahan. Salah satu kelemahan tersebut adalah berkurangnya fokus karena terlalu sering membuka media sosial hingga mengabaikan kondisi di sekitar. Apabila kondisi ini terjadi bersamaan dengan beban kerja yang tinggi, rasa lelah, atau kurangnya pengawasan, kemungkinan terjadinya kesalahan saat bekerja akan semakin besar (Reason, 1990). Penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan media sosial secara berlebihan dapat menurunkan konsentrasi sehingga pekerja lebih mudah melakukan kesalahan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerusakan peralatan maupun kecelakaan kerja (Aribowo & Bagaskara, 2025).

Rekomendasi dan Implementasi

Pengendalian risiko distraksi digital memerlukan kolaborasi berlapis:

  • Bagi Pekerja

  1. Menghindari penggunaan media sosial selama 30–60 menit sebelum memulai pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi
  2. Memanfaatkan fitur Focus Mode atau Do Not Disturb pada telepon genggam selama bekerja
  3. 20-20-20 rule (tiap 20 menit layar lihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik)
  4. Melakukan microbreak selama 3–5 menit setiap 60–90 menit bekerja untuk membantu memulihkan fokus

  • Bagi Pengawas / Safety Officer

  1. Memasukkan faktor hilang fokus pada ponsel sebagai salah satu ancaman kecelakaan saat melakukan pemeriksaan atau penilaian keamanan lokasi kerja
  2. Lebih rutin mengingatkan pekerja tentang bahayanya pikiran yang lelah saat pengarahan keselamatan sehari-hari, serta lebih peka jika melihat ada pekerja yang mulai kehilangan fokus atau tidak bisa fokus di lapangan
  3. Memasukkan risiko distraksi digital ke dalam proses HIRADC/JSA pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi
  4. Mengidentifikasi tanda-tanda kelelahan mental ketika melakukan behavior based safety observation
  5. Memberikan safety talk mengenai pentingnya menjaga fokus sebelum pekerjaan dimulai

  • Bagi Perusahaan / Manajemen

  1. Membuat aturan "Kawasan bebas ponsel" di area yang sangat berbahaya dan berisiko tinggi
  2. Membangun program yang peduli pada kesehatan, pikiran, dan pengaturan jam istirahat pekerja sesuai standar keselamatan berlaku, agar karyawan tidak kelelahan secara fisik maupun mental

  • Bagi Institusi Pendidikan K3

  1. Menambahkan materi pelajaran bagi mahasiswa tentang bahaya kecanduan perangkat digital dan dampaknya terhadap cara kerja otak serta keselamatan lapangan
  2. Mendorong penelitian mengenai hubungan penggunaan media digital dengan human error pada berbagai sektor industri


Kesimpulan


    Fenomena brain rot dan doomscrolling menunjukkan bahwa jenis ancaman terhadap keselamatan kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi digital. Gangguan dari ponsel berpotensi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya human error yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja akibat kelalaian manusia (human error). Oleh karena itu, sistem keselamatan kerja di perusahaan harus segera memasukkan faktor kelelahan pikiran ini sebagai bahaya utama yang wajib dicegah. Untuk mencapai target bebas kecelakaan (zero accident), perusahaan tidak cukup hanya menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) secara fisik, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan pikiran dan mental pekerja sebagai bagian dari pengelolaan risiko K3.



                                    Daftar Pustaka


    Al-Hakim, R., Ardianto, R., Suryani, R., & Jayusman, H. (2025). Fenomena brain rot di kalangan anak muda: Refleksi penggunaan teknologi dan revitalisasi peran kepemudaan. Journal of Law, Economics, and Engineering1(1), 30-34. https://jolens.org/index.php/jolens/article/view/5/6

Aribowo, P., & Bagaskara, M. I. (2025). Dampak penggunaan media sosial "brain rot" terhadap kesehatan mental remaja. Jurnal Sosial dan Teknologi (SOSTECH)5(3), 350. http://sostech.greenvest.co.id/index.php/sostech/article/view/32020

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. JDIH Kementerian Ketenagakerjaan.  https://jdih.kemnaker.go.id/peraturan/detail/1546/peraturan-menteri-nomor-5-tahun-2018

Leroy, S., 2009. Why is it so hard to do my work? The challenge of attention residue when switching between work tasks. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 109(2), pp.168–181. https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2009.04.002

Pemerintah Republik Indonesia. (1970). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1. https://jdih.esdm.go.id/common/dokumen-external/uu-01-1970.pdf

Pemerintah Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Nomor 6887. https://peraturan.bpk.go.id/details/258028/uu-no-17-tahun-2023

Reason, J. (1990) Human Error. Cambridge University Press, Cambridge. https://doi.org/10.1017/CBO9781139062367

Türk-Kurtça, T., & Kocatürk, M. (2025). Beyond the scroll: Exploring how intolerance of uncertainty and psychological resilience explain the association between trait anxiety and doomscrolling. Personality and Individual Differences233, 112919. https://doi.org/10.1016/j.paid.2024.112919









Share through social media
Or
Share with a link
Post a Comment